Hermeneutika Makna Sasi: Potret Warga Adat Menjaga Ekologi
- account_circle Al Muhammad
- calendar_month Kam, 15 Jan 2026

Gaf Imbra, Mahasiswa Ilmu Komunikasi, FISIP UMMU.
Oleh : Gaf Imbara (Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UMMU)
Tulisan ini merupakan tugas pengganti Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Etika Filsafat Komunikasi yang ditugaskan oleh dosen pengampu M. Nofrizal Amir, dengan tujuan menganalisis pemikiran Hans-Georg Gadamer (1960) dalam konteks realitas sosial dan digital manusia hari ini.
Dewasa ini, persoalan ekologi menjelma menjadi isu yang begitu “seksi”. Istilah seperti deforestasi, abrasi, dan berbagai kata sejenisnya berseliweran di ruang publik, seolah menjadi alarm yang terus-menerus berbunyi. Namun jauh sebelum bahasa krisis lingkungan diproduksi oleh wacana akademik maupun kampanye global, masyarakat adat sesungguhnya telah lebih dulu mempraktikkan etika ekologis dalam kehidupan sehari-hari. Di Maluku, salah satu contoh paling nyata adalah tradisi sasi.
Sasi bukan sekadar larangan adat yang bersifat simbolik. Ia merupakan mekanisme sosial-ekologis yang mengatur relasi manusia dengan alam. Inti dari sasi adalah pembatasan sementara terhadap eksploitasi hasil hutan maupun laut hingga waktu tertentu. Dalam tradisi ini, sasi memiliki nilai hukum yang substantif, bukan sekadar norma moral (Hutapea & Lestarini, 2023). Dengan kata lain, jauh sebelum konsep keberlanjutan (sustainability) dipopulerkan, masyarakat adat telah memiliki kesadaran untuk tidak mengeksploitasi alam secara brutal dan serampangan.
Potret praktik sasi di Desa Haya, Kecamatan Tehoru, Maluku Tengah, menunjukkan bahwa sasi bekerja bukan hanya sebagai aturan teknis pengelolaan sumber daya, melainkan sebagai norma yang menjaga tatanan sosial sekaligus keseimbangan ekologis. Makna inilah yang membuat sasi tidak membeku sebagai tradisi kuno, melainkan terus ditafsirkan ulang dari generasi ke generasi. Di titik ini, sasi hidup sebagai tradisi yang dinamis.
Dalam kerangka filsafat hermeneutika Hans-Georg Gadamer (1960), proses tersebut dapat dibaca sebagai peleburan cakrawala (fusion of horizons). Gadamer, filsuf Jerman abad ke-20 yang dikenal lewat karya monumentalnya Wahrheit und Methode (Kebenaran dan Metode), menegaskan bahwa pemahaman selalu lahir dari dialog antara masa lalu dan masa kini. Tradisi tidak pernah berdiri beku, namun selalu dipahami ulang dalam konteks pengalaman historis yang terus bergerak.
Bagi Gadamer, pemahaman tidak dapat dilepaskan dari prasangka (prejudices). Namun prasangka di sini bukanlah penilaian negatif atau irasional, melainkan kerangka awal yang memungkinkan seseorang memahami dunia. Dengan demikian, kepatuhan masyarakat Desa Haya terhadap sasi dapat dipahami sebagai prasangka positif, bahwa keyakinan yang diwariskan leluhur, hidup selaras dengan alam yang membawa kebaikan bersama.
Karena itu, kepatuhan terhadap sasi tidak membutuhkan aparat penegak hukum, namun kesadaran kolektiflah yang menjadi penjaminnya.
Hegemoni Cakrawala Tambang atas Tradisi Adat
Pada Sabtu, 15 Februari 2025, warga Desa Haya kembali menggelar sasi sebagai bentuk protes terhadap aktivitas perusahaan tambang pasir garnet. Dalam laporan titastory.id edisi 16 Februari 2025, disebutkan bahwa warga menolak tambang tersebut karena dinilai merusak lingkungan dan mengancam keberlanjutan adat. Dalam perspektif Gadamer, peristiwa ini mencerminkan kesadaran akan pengaruh sejarah kesadaran bahwa pengalaman masa lalu membentuk cara masyarakat membaca ancaman di masa kini.
Perjalanan sejarah yang panjang telah membuat warga Haya memahami mengapa sasi harus terus dipertahankan. Praktik sasi hari ini adalah artikulasi dari pengalaman ekologis leluhur: mengambil seperlunya, tidak berlebihan, dan tahu kapan harus memberi ruang bagi alam untuk memulihkan dirinya. Di sinilah terjadi dialog antara masa lalu dan pemahaman masa kini.
Namun persoalan menjadi rumit ketika tradisi sasi berhadapan dengan logika pertambangan. Alih-alih terjadi peleburan cakrawala, yang muncul justru hegemoni cakrawala tambang atas cakrawala tradisi. Di pesisir Desa Haya, luka ekologis akibat aktivitas tambang pasir garnet berjalan beriringan dengan konflik sosial yang berkepanjanga. Ruang hidup warga kian tergerus, baik secara ekologis maupun kultural.
Menggaungkan jargon “kesejahteraan” melalui kebijakan ekonomi berbasis ekstraksi sumberdaya, tanpa dialog yang setara dengan tradisi lokal, pada dasarnya merupakan bentuk kolonialisasi baru atas masyarakat adat. Di sinilah konsep fusion of horizons menjadi relevan dan mendesak. Modernitas dan tradisi semestinya tidak saling meniadakan, melainkan berdialog untuk melahirkan makna baru, bukan dominasi satu cakrawala atas yang lain.
Pada akhirnya, tulisan sederhana ini mengajak kita memaknai kembali tradisi sasi bukan sebagai romantisme masa lalu, melainkan sebagai praktik ekologis yang relevan dengan krisis lingkungan hari ini. Di tengah kerusakan alam yang kian masif, terdapat kearifan lokal yang tampak sederhana, bahkan sering dianggap usang, namun justru menawarkan solusi yang berakar pada keseimbangan.
Yang paling penting, tanpa dialog yang setara antara tradisi dan modernitas, yang hilang bukan hanya adat, melainkan juga kehidupan itu sendiri.
***
- Penulis: Al Muhammad
