Ditangkap Karena Melindungi Hutan Adat, Kisah Sahrudin dan Putrinya
- account_circle Al Muhammad
- calendar_month Sen, 21 Jul 2025

Foto : Wahyuni Sahrudin (Anak dari salah satu warga yang ditangkap Polisi)
Ia pun mengirimkan potongan video kepada sang ibu. Lama tak ada balasan. Beberapa jam kemudian, ibunya membalas singkat dan lirih: “Iya, ternyata benar.”
Bagi Wahyuni, hari itu menjadi awal dari kesedihan panjang. Sebagai anak tunggal dari pasangan Sahrudin Awat dan almarhumah Maskura Ibrahim, ia tumbuh dalam keluarga sederhana yang sangat menjunjung tinggi pendidikan dan adat.
Sejak ibunya wafat, ia melanjutkan kuliah berkat kerja keras sang ayah yang bekerja serabutan. Kini, setelah ayahnya ditangkap, Wahyuni bertahan hidup di Ternate dengan bantuan tantenya, adik almarhumah ibunya.
“Kalau bukan karena Tante, saya mungkin sudah berhenti kuliah. Saya tidak punya siapa-siapa lagi,” katanya.
Sementara itu, dua adik tirinya yang masih kecil tinggal di kampung bersama istri kedua ayahnya. Mereka juga terdampak oleh situasi yang belum pasti ini. Beban ekonomi dan psikologis pun menimpa seluruh keluarga, sementara proses hukum terhadap sang ayah masih belum jelas.
Wahyuni sendiri kini berada di ujung masa kuliah, tengah menyusun skripsi. Namun proses akademik itu terasa berat karena dihantui perasaan tidak adil.
“Saya tidak mengerti lagi apa arti keadilan,” ucapnya sambil mengusap air mata. Meski terus mencoba menyelesaikan tugas akhirnya, pikirannya tetap tertambat pada hutan dan tanah adat yang menurutnya sedang dirampas atas nama investasi.
“Papa tidak merusak, Papa tidak membakar, Papa tidak merampok. Papa hanya menjaga hutan yang diwariskan oleh leluhur kami,” tegas Wahyuni.
Meski diliputi duka, Wahyuni tetap menyimpan rasa bangga pada sang ayah. “Kalau Papa masuk penjara karena korupsi atau mencuri, saya pasti malu. Tapi Papa ditangkap karena membela tanah, karena membela lingkungan. Saya bangga,” ujarnya. Ia juga mengaku sering menangis di malam hari, namun berjanji tetap menyelesaikan kuliahnya.
“Saya ingin Papa tahu bahwa perjuangan dia tidak sia-sia. Saya akan jadi guru. Saya akan ajarkan ke anak-anak bahwa hutan bukan untuk dijual, dan tanah adat bukan untuk dirampas,” tukasnya. Dengan suara bergetar.
ia meminta agar pemerintah dan publik lebih peduli terhadap perjuangan orang-orang adat seperti ayahnya.
“Tolong bebaskan Papa saya. Beliau tidak bersalah. Dia dan teman-temannya hanya membela hak kami sebagai orang adat. Kami bukan penghambat pembangunan, kami hanya ingin hidup bermartabat di tanah sendiri,” harapnya.
- Penulis: Al Muhammad
- Editor: Muhammad S. Haliun
