Breaking News
light_mode
Beranda » Regional » Rizal dan Wajah Baru Birokrasi Kota Ternate

Rizal dan Wajah Baru Birokrasi Kota Ternate

  • account_circle Al Muhammad
  • calendar_month Ming, 15 Feb 2026

Ikram Halil (ASN Kota Ternate)

Di banyak daerah, jabatan Sekretaris Daerah (Sekda) sering dipersepsikan sebagai posisi paling “aman” dalam struktur pemerintahan. Perannya vital, tetapi kerap bekerja senyap mengatur administrasi, memastikan roda birokrasi berjalan, dan menjadi simpul koordinasi antar organisasi perangkat daerah. Namun, di Kota Ternate, gambaran itu perlahan bergeser sejak Rizal Marsaoly menduduki jabatan Sekda.

Rizal tergolong muda untuk posisi strategis tersebut. Usia dan latar belakangnya menduduki sejumlah jabatan strategis seperti Bappeda, Dinas Tata Kota, Dinas Pariwisata dan Dinas Perumahan dan Permukiman- membentuk karakter kepemimpinan yang dinamis, gesit, dan relatif berani mengambil pendekatan yang tidak lazim bagi seorang Sekda.

Ia tidak memposisikan diri semata sebagai chief administrator, melainkan sebagai penggerak lapangan yang ingin memastikan kebijakan benar-benar menyentuh realitas warga.

Dalam literatur administrasi publik, Dwiyanto menyebut bahwa problem utama birokrasi Indonesia adalah jarak antara pembuat kebijakan dan penerima layanan.

Birokrasi sering sibuk dengan prosedur, tetapi abai pada pengalaman warga. Di titik inilah Rizal Marsaoly mencoba mengambil jalan berbeda: mendekatkan meja kebijakan ke ruang pelayanan.

Salah satu wujud paling konkret adalah program “Rabu Menyapa”. Program ini bukan sekadar agenda seremonial turun lapangan atau kunjungan simbolik yang berakhir pada foto dan laporan singkat. Dalam praktiknya, Rizal menjadikan Rabu sebagai hari evaluasi langsung. Dia mendatangi dinas-dinas, khususnya yang bersentuhan dengan pelayanan dasar kesehatan, pendidikan, kebersihan, dan administrasi publik.

Di puskesmas, Rizal tidak hanya menyapa kepala fasilitas atau tenaga medis, tetapi juga mengamati langsung alur pelayanan: antrian pasien, ketersediaan tenaga, hingga kendala teknis yang sering dianggap “Hal Kecil” namun berdampak besar bagi warga. Di sekolah-sekolah, Rizal memastikan proses pendidikan berjalan bukan hanya sesuai regulasi, tetapi juga memenuhi rasa keadilan dan kelayakan pelayanan bagi peserta didik.

Menurut Denhardt dan Denhardt dalam konsep New Public Service, aparatur negara seharusnya tidak sekadar mengendalikan (steering), tetapi melayani (serving). Pelayanan publik yang baik lahir dari empati, dialog, dan pemahaman langsung terhadap kebutuhan warga.

Pendekatan Rizal mencerminkan spirit ini: birokrasi tidak lagi eksklusif, tetapi hadir sebagai mitra masyarakat.

Kehadiran Rizal juga terasa hingga wilayah-wilayah yang selama ini kerap dipersepsikan sebagai “Pinggiran” kebijakan. Bersama Wali Kota Tauhid Soleman dan Wakil Wali Kota, ia rutin turun ke kelurahan dan kecamatan di pulau-pulau terluar Ternate—Moti, Hiri, dan Batang Dua.

Menyambangi kantor lurah, kantor camat, dan mendengar langsung persoalan yang dihadapi aparat paling bawah, mulai dari keterbatasan sarana, beban kerja, hingga persoalan akses layanan dasar.

Riant Nugroho, pakar kebijakan publik, menegaskan bahwa kebijakan yang efektif selalu berangkat dari pemetaan masalah yang akurat.

“Tanpa memahami konteks lokal dan realitas lapangan, kebijakan hanya akan menjadi dokumen normatif,” tulisnya.

Dalam konteks ini, langkah Rizal turun ke wilayah terluar bukan sekadar menunjukkan kepedulian, tetapi juga membangun basis informasi yang lebih jujur untuk pengambilan keputusan.

Momen yang paling menyentuh publik terjadi pada Rabu pekan lalu, ketika Rizal mengumpulkan seluruh tenaga pengangkut sampah para pengemudi motor roda tiga yang setiap hari mengangkut sampah dari lorong-lorong sempit permukiman warga. Bersama Wali Kota Tauhid Soleman, Rizal menyapa mereka satu per satu, mendengar langsung keluh kesah yang selama ini jarang tersampaikan.

Para pengangkut sampah ini sering disebut sebagai “pahlawan kebersihan”, namun dalam praktik birokrasi, suara mereka kerap tenggelam. Soal kesejahteraan, jam kerja, risiko kesehatan, hingga fasilitas kerja, jarang menjadi prioritas diskusi kebijakan. Dengan duduk dan mendengar langsung, Rizal menempatkan mereka bukan sebagai objek, tetapi sebagai subjek pembangunan kota.

Max Weber memang menekankan pentingnya rasionalitas dan hierarki birokrasi, tetapi pendekatan birokrasi modern menuntut lebih dari sekadar kepatuhan prosedural. Birokrasi dituntut memiliki sensitivitas sosial. Apa yang dilakukan Rizal menunjukkan upaya menjembatani dua hal ini: ketertiban administrasi dan kepekaan kemanusiaan.

Tentu, pendekatan lapangan bukan tanpa tantangan. Konsistensi, keberlanjutan, dan penerjemahan temuan lapangan ke dalam kebijakan konkret akan menjadi ujian utama. Tanpa itu, program seperti Rabu Menyapa berisiko menjadi rutinitas tanpa dampak struktural. Namun sejauh ini, Rizal Marsaoly memberi sinyal kuat bahwa jabatan Sekda tidak harus identik dengan jarak dan kekakuan.

Di Kota Ternate, Rizal menghadirkan wajah lain dari birokrasi daerah: birokrasi yang mau turun ke lorong, mendengar dari bawah, dan menjadikan pelayanan publik sebagai urusan bersama. Sebuah praktik kepemimpinan administratif yang, jika dijaga konsistensinya, layak menjadi contoh bagi daerah lain.

  • Penulis: Al Muhammad
  • Editor: Fikram Sabar

Berita Lainnya

  • Retorika dan Wajah Media Sosial

    Retorika dan Wajah Media Sosial

    • calendar_month Ming, 18 Jan 2026
    • account_circle Al Muhammad
    • 0Komentar

    Oleh : Muhammad Apriansyah Tarafannur (Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UMMU) “Tulisan ini merupakan tugas pengganti Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Etika Filsafat Komunikasi yang ditugaskan oleh dosen pengampu M. Nofrizal Amir, dengan tujuan menganalisis pemikiran Aristoteles dalam konteks realitas sosial dan digital manusia hari ini” Media sosial kini telah menjadi tempat utama di mana […]

  • OC Kaligis: Ada Kriminalisasi Soal Patok Tambang Di Haltim 2:7 Play Button

    OC Kaligis: Ada Kriminalisasi Soal Patok Tambang Di Haltim

    • calendar_month Jum, 22 Agu 2025
    • account_circle Al Muhammad
    • 0Komentar
  • LBH Ansor Soroti Kinerja Polsek Pulau Ternate, Desak Serius Tangani Pengeroyokan di Togafo

    LBH Ansor Soroti Kinerja Polsek Pulau Ternate, Desak Serius Tangani Pengeroyokan di Togafo

    • calendar_month Rab, 20 Agu 2025
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    TERNATE– Penanganan kasus dugaan pengeroyokan terhadap seorang ibu rumah tangga (IRT) di Kelurahan Togafo, Pulau Ternate, menuai sorotan. Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor Kota Ternate mendesak Polsek Pulau Ternate mempercepat proses hukum agar korban mendapat keadilan. Ketua LBH Ansor Kota Ternate, Zulfikran Bailussy, menyebut hingga kini empat tersangka yang sudah ditetapkan, masing-masing NA, AH, SD, […]

  • Vonis 3,5 Tahun Penjara untuk Hasto Kristiyanto dalam Kasus Suap Harun Masiku

    Vonis 3,5 Tahun Penjara untuk Hasto Kristiyanto dalam Kasus Suap Harun Masiku

    • calendar_month Jum, 25 Jul 2025
    • account_circle Al Muhammad
    • 0Komentar

    Jakarta,Kokehe – Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta resmi menjatuhkan vonis 3 tahun 6 bulan penjara terhadap Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, pada Jumat (25/7/2025). Putusan ini dijatuhkan setelah Hasto dinilai terbukti terlibat dalam kasus suap terkait pergantian antarwaktu (PAW) anggota DPR RI yang melibatkan Harun Masiku. Dalam sidang pembacaan putusan, Hakim […]

  • Unkhair – Badan Bank Tanah Teken MoU, Dorong Penguatan Tata Ruang dan SDM

    Unkhair – Badan Bank Tanah Teken MoU, Dorong Penguatan Tata Ruang dan SDM

    • calendar_month Kam, 27 Nov 2025
    • account_circle Muhammad S. Haliun
    • 0Komentar

    Ternate, Kokehe – Badan Bank Tanah RI mendorong penguatan tata kelola pertanahan nasional dengan menggandeng perguruan tinggi melalui LandSmart Campus Series yang digelar di Aula Nuku Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Kamis (27/11/2025). Kegiatan ini tak sekadar sosialisasi, tetapi menjadi ruang dialog terbuka bagi mahasiswa dan akademisi dalam memberi masukan kritis terkait kebijakan pertanahan. Deputi Bidang […]

  • Dituding Gagal Pimpin OPD, Kadis Kominfosan Malut Terancam Dicopot

    Dituding Gagal Pimpin OPD, Kadis Kominfosan Malut Terancam Dicopot

    • calendar_month Sen, 16 Jun 2025
    • account_circle Al Muhammad
    • 0Komentar

    Sofifi, Kokehe – Pengelolaan anggaran di setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD), khususnya di lingkungan Pemerintah Provinsi Maluku Utara, semestinya dilakukan secara terbuka dan transparan. Hal ini penting untuk menjamin efektivitas pelaksanaan program kerja serta peningkatan kinerja para pegawai dan staf. Namun, kondisi berbeda justru terjadi di lingkup Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian (Diskominfo) Maluku Utara. […]

error: Content is protected !!
expand_less