Menkeu Tolak APBN untuk Bayar Utang Whoosh, Danantara dan KCIC Cari Skema Baru
- account_circle Al Muhammad
- calendar_month Sab, 18 Okt 2025

Kereta Cepat Whoosh
Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan pihaknya sedang mengkaji sejumlah opsi penyelamatan keuangan PT Kereta Api Indonesia (KAI) akibat beban utang proyek KCJB. Salah satu langkah yang dipertimbangkan adalah suntikan modal tambahan agar struktur keuangan KAI tetap sehat.
“Secara operasional, EBITDA KAI sudah positif. Namun ekuitasnya masih kecil dibandingkan dengan pinjaman proyek kereta cepat,” kata Dony.
Menurut Dony, opsi lain yang juga dibahas adalah menjadikan sebagian infrastruktur KCIC sebagai aset negara dengan model Badan Layanan Umum (BLU). Model ini dinilai dapat mengurangi beban utang perusahaan tanpa mengganggu kinerja operasional proyek.
Laporan keuangan KCIC menunjukkan total biaya pembangunan proyek Whoosh mencapai US$ 7,26 miliar atau sekitar Rp 119,79 triliun, naik dari nilai investasi awal US$ 6,05 miliar. Dari total tersebut, sekitar 75 persen berasal dari pinjaman China Development Bank (CDB) dengan bunga rata-rata 3,3 persen dan tenor hingga 45 tahun. Sementara 25 persen sisanya berasal dari ekuitas para pemegang saham.
Konsorsium Indonesia yang tergabung dalam PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) memegang 60 persen saham, terdiri atas PT KAI (58,53 persen), PT Wijaya Karya Tbk (33,36 persen), PT Jasa Marga Tbk (7,08 persen), dan PT Perkebunan Nusantara I (1,03 persen). Adapun pihak Tiongkok melalui Beijing Yawan HSR Co. Ltd menguasai 40 persen saham.
Berdasarkan laporan keuangan PT KAI per 30 Juni 2025, PSBI tercatat memiliki total aset Rp 27,39 triliun dengan kewajiban Rp 18,93 triliun. Meskipun masih mencatat kerugian Rp 1,62 triliun, kondisi tersebut membaik dibandingkan tahun sebelumnya yang rugi Rp 4,19 triliun. Dana sinking fund untuk proyek KCJB juga menurun dari Rp 1,73 triliun pada 2024 menjadi Rp 1,38 triliun pada pertengahan 2025.
- Penulis: Al Muhammad
