Dari Koneksi Kilat ke Perjumpaan yang Hilang
- account_circle Al Muhammad
- calendar_month Jum, 16 Jan 2026

Firhat Abbas, Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UMMU.
Oleh : Firhat Abbas | Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UMMU
Tulisan ini merupakan tugas pengganti Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Etika Filsafat Komunikasi yang ditugaskan oleh dosen pengampu M. Nofrizal Amir, dengan tujuan menganalisis pemikiran Martin Buber dalam konteks realitas sosial dan digital manusia hari ini.
Layar ponsel membuat dunia terasa dekat: teman lama, rekan kerja, selebritas, dan berita tersedia kapan saja. Notifikasi menciptakan kesan hubungan instan dan unggahan mendapat respons dalam hitungan detik. Satu konten viral bisa menarik perhatian jutaan orang. Di balik kesan keterhubungan itu sering muncul kekosongan, yakni percakapan berlalu cepat, hubungan menjadi dangkal, penilaian muncul seketika, dan perhatian mudah berpindah. Banyak interaksi di dunia maya lebih mirip pertukaran sinyal daripada pertemuan manusiawi.
Untuk menilai kualitas relasi tersebut, gagasan Martin Buber (1958) relevan. Buber membagi relasi manusia menjadi dua pola utama: Aku-Engkau dan Aku- Itu. Dalam pola Aku-Engkau, pertemuan adalah dialog yang mengakui orang lain sebagai subjek penuh, hadir, didengarkan, dan mampu mengubah kita. Sebaliknya, pola Aku-Itu mereduksi orang menjadi objek yang dinilai, dipakai, atau dinikmati. Menurut Buber, hidup yang sejati tumbuh dari perjumpaan; tanpa itu, eksistensi cenderung terpecah.
Memasuki ranah media sosial, tampak bahwa aspek teknis dan budaya mendukung kecenderungan Aku-Itu. Algoritma sering memprioritaskan konten yang memicu reaksi emosional. Antarmuka platform mendorong respons singkat seperti like, emoji, dan geser layar. Jarak fisik dan anonimitas mengurangi rasa tanggung jawab pengguna.
Metrik popularitas berupa jumlah pengikut, like, dan view mengubah perhatian menjadi komoditas. Kombinasi faktor ini memudahkan objektifikasi pengguna menjadi angka, unggahan menjadi produk, dan interaksi berpusat pada perhatian yang dapat diukur. Secara lebih rinci, ada tiga bentuk nyata pola Aku-Itu di media sosial.
Pertama, budaya komentar publik yang kerap berubah menjadi penghakiman massal. Satu kesalahan atau potongan informasi yang disalahtafsirkan dapat memicu serangan kolektif. Reputasi seseorang bisa runtuh karena penilaian atas fragmen, bukan konteks penuh.
Kedua, budaya kurasi diri mendorong self-objectification: individu menyusun citra yang mudah dinilai, seperti foto yang diedit atau narasi hidup yang dipoles sehingga identitas tergerus menjadi estetika yang dinilai publik.
Ketiga, hubungan antara influencer dan follower sering bersifat parasosial: rasa dekat sepihak yang tampak nyata padahal minim dialog timbal balik yang saling mengubah.
- Penulis: Al Muhammad
