Breaking News
light_mode
Beranda » Regional » Ketika Negara Tebang Pilih Melihat Kejahatan

Ketika Negara Tebang Pilih Melihat Kejahatan

  • account_circle Al Muhammad
  • calendar_month 14 jam yang lalu

Oleh : Amirudin A. Muhammad

Sekretaris Sudut Literasi Jou Kota

 

Yuval Noah Harari dalam bukunya Sapiens menggambarkan manusia purba, Neandertal yang memetik ara liar, tanpa harus menentukan di mana pohon ara harus dihilangkan, di padang mana domba harus merumput, atau kambing jantan mana yang layak membuahi kambing betina.

Gambaran ini mengingatkan kita pada satu hal penting: sebelum manusia menciptakan sistem yang rumit, kehidupan berjalan tanpa kekuasaan yang menyeleksi secara sewenang-wenang. Maka menjadi ironis ketika hari ini, dengan sistem yang mengklaim dirinya modern, negara justru gagal memberikan pasokan kebutuhan dasar dan kehidupan sosial rakyatnya.

Harari mengingatkan bahwa dalam peradaban modern, kejahatan sering kali baru dianggap serius ketika ia menggerogoti isi kantong kekuasaan. Sebaliknya, kerusakan yang terjadi pada ruang kehidupan rakyat sering dianggap sebagai “efek samping pembangunan” yang dapat ditoleransi. Logika inilah yang terus diproduksi di negara.

Kejahatan korporasi di Maluku Utara bukanlah peristiwa baru. Kasus PT Wanatiara Persada hanyalah satu dari sekian banyak praktik kejahatan korporasi yang terjadi di wilayah ini. Namun, negara dengan logika kekuasaannya cenderung memandang kejahatan sebatas pada apa yang secara langsung merugikan kas negara, seperti pajak dan pendapatan. Sementara itu, kejahatan yang merusak lingkungan, mencemari sungai, menggunduli hutan, dan merampas ruang hidup masyarakat lingkar tambang diabaikan.

Pernyataan penyesalan Wakil Gubernur Maluku Utara dalam siaran pers di media Malut Post menampilkan arah empati kekuasaan yang timpang. Kekesalan tersebut lebih diarahkan pada kejahatan ekonomi dibandingkan kerusakan lingkungan dan penderitaan warga di sekitar tambang.

Padahal, beberapa dekade lalu, ketika 11 warga adat Maba Sangaji ditangkap dan dikriminalisasi, hampir tak ada satu pun ekspresi kemarahan dari pemerintah daerah. Negara hadir dengan wajah yang dingin ketika rakyat menjadi korban.

Laporan Catatan Akhir Tahun 2025 Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Maluku Utara berjudul “NERAKA: Di Zona Pengorbanan, Pertumbuhan Ekonomi Merobek Keadilan” menegaskan kondisi tersebut. Laporan ini merangkum temuan lapangan di Halmahera Timur, Halmahera Tengah, Pulau Obi, dan Pulau Gebe, serta diperingatkan bahwa kerusakan lingkungan di Maluku Utara telah memasuki tahap paling kritis.

Namun, peringatan ini seolah tenggelam di tengah narasi pertumbuhan ekonomi dan investasi.

Jika negara merasa dirugikan karena persoalan pajak, seharusnya negara juga merasa dirugikan ketika lingkungan dihancurkan dan rakyat kehilangan sumber penghidupan. Banyak masyarakat kehilangan kebun, air bersih, dan mata pencaharian akibat aktivitas pertambangan. Dengan demikian, kehadiran negara tidak boleh direduksi menjadi sekedar penjaga kepentingan ekonomi, melainkan sebagai pelayan rakyat.

Situasi ini mencerminkan apa yang disebut oleh ahli matematika dan sosiolog kelahiran Norwegia Johan Galtung yang memandang kekerasan struktural iyalah kekerasan yang tidak selalu hadir dalam bentuk senjata atau penjara, tetapi bekerja melalui sistem sosial dan kebijakan yang memungkinkan penderitaan berlangsung terus-menerus.

Ketika negara membiarkan kerusakan lingkungan dan kriminalisasi masyarakat adat, sebenarnya negara sedang melakukan kekerasan dalam bentuk yang paling halus namun mematikan.

Karl Marx jauh hari telah mengingatkan bahwa negara kerap berfungsi sebagai alat untuk melindungi modal kepentingan. Praktik ini terlihat jelas ketika negara bertindak tegas terhadap korporasi hanya pada saat terjadi gangguan kepentingan ekonomi, tetapi bijaksana ketika kejahatan korporasi merampas hak hidup rakyat dan merusak alam.

Kejahatan korporasi tidak boleh dipandang semata-mata dari sisi ekonomi. Sungai yang tercemar, hutan yang gundul, serta kriminalisasi masyarakat adat adalah bentuk kejahatan yang sama seriusnya. Negara tidak boleh hadir hanya ketika merasa dirugikan, tetapi juga harus hadir untuk menyaksikan langsung penderitaan masyarakat lingkar tambang.

Jika keadilan hanya diukur dari kerugian ekonomi negara, maka kejahatan lingkungan akan terus merajalela di Pulau Halmahera. Pada akhirnya, kelestarian lingkungan hanya akan menjadi slogan kosong di mulut kekuasaan. Negara yang abai terhadap penderitaan rakyatnya bukanlah negara yang kuat, melainkan negara yang kehilangan legitimasi moralnya.

***

  • Penulis: Al Muhammad

Berita Lainnya

  • Dicecar soal Ritual Adat dan Aksi, Saksi Polisi Keberatan

    Dicecar soal Ritual Adat dan Aksi, Saksi Polisi Keberatan

    • calendar_month Rab, 13 Agu 2025
    • account_circle Al Muhammad
    • 0Komentar

    Tidore,Kokehe – Sidang perkara 11 warga adat Maba Sangaji kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Soasio, Tidore, pada Rabu (13/8/2025). Sidang kedua ini berlangsung dalam suasana tegang, dengan menghadirkan sejumlah saksi dari pihak perusahaan PT Position, saksi dari para terdakwa, serta saksi dari pihak keamanan. Ketegangan mulai terasa ketika tim Penasihat Hukum (PH) para terdakwa […]

  • Bahasa Sosmed dan Matinya Makna Tunggal: Refleksi Saussure di Era Digital

    Bahasa Sosmed dan Matinya Makna Tunggal: Refleksi Saussure di Era Digital

    • calendar_month Sel, 13 Jan 2026
    • account_circle Al Muhammad
    • 0Komentar

    Oleh : Nahda Auliana (Mahasiswa Ilmu Komunikasi, FISIP UMMU) “Tulisan ini merupakan tugas pengganti Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Etika Filsafat Komunikasi yang ditugaskan oleh dosen pengampu M. Nofrizal Amir, dengan tujuan menganalisis pemikiran Ferdinand de Saussure dalam konteks realitas sosial dan digital manusia hari ini” Belum lama ini, jagat media sosial diramaikan oleh istilah […]

  • Belasan Siswa SMK Negeri 5 Ternate Diduga Keracunan Usai Konsumsi Makanan MBG

    Belasan Siswa SMK Negeri 5 Ternate Diduga Keracunan Usai Konsumsi Makanan MBG

    • calendar_month Jum, 25 Jul 2025
    • account_circle Al Muhammad
    • 0Komentar

    Ternate, Kokehe – Dugaan kasus keracunan massal terjadi di SMK Negeri 5 Kota Ternate, yang berlokasi di Jalan Pahlawan Revolusi, Kecamatan Ternate Tengah. Sejumlah siswa dikabarkan mengalami gejala sakit seperti mual, diare, dan demam setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa, 22 Juli 2025 lalu. Seorang siswa kelas 10, yang meminta […]

  • Lahan Leluhur Dinilai Rp 2.500, 11 Warga Sangaji Dibui Saat Bela Harga Diri dan Warisan

    Lahan Leluhur Dinilai Rp 2.500, 11 Warga Sangaji Dibui Saat Bela Harga Diri dan Warisan

    • calendar_month Sen, 21 Jul 2025
    • account_circle Al Muhammad
    • 0Komentar

    Maba, Kokehe – Perjuangan warga Maba Sangaji, Halmahera Timur, mempertahankan tanah warisan leluhur berakhir pilu. Tanah yang mereka jaga turun-temurun disebut hanya dihargai Rp 2.500 per meter, sementara 11 dari mereka kini mendekam di tahanan setelah aksi damai melawan tambang nikel berujung kriminalisasi. “Ini bukan cuma soal uang. Bahkan tanah kuburan tidak bisa dibayar Rp […]

  • PT Karya Wijaya Milik Gubernur Malut Disorot, Bupati Halteng Akui Tak Tahu IPPKH

    PT Karya Wijaya Milik Gubernur Malut Disorot, Bupati Halteng Akui Tak Tahu IPPKH

    • calendar_month Rab, 24 Sep 2025
    • account_circle Al Muhammad
    • 0Komentar

    TERNATE – KOKEHE – Komisi IV DPR RI secara tegas menyoroti dugaan praktik penambangan ilegal yang dilakukan PT Karya Wijaya, perusahaan yang diduga milik Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda, di Pulau Gebe, Kabupaten Halmahera Tengah Selasa (23/9/2025). Anggota Komisi IV DPR RI, Rajiv, mempertanyakan legalitas PT Karya Wijaya yang diduga tidak mengantongi Izin Pinjam Pakai […]

  • Korupsi di Tanah Sula menjadi Budaya dan Kebiasaan 

    Korupsi di Tanah Sula menjadi Budaya dan Kebiasaan 

    • calendar_month Jum, 17 Okt 2025
    • account_circle Asrul Umarama
    • 0Komentar

    Kokehe – Telah banyak korupsi di idonesia, sudah menjadi rahasia umum di telinga masyarakat. Praktik ini, sering dilakukan oleh orang-orang mendapatkan jabatan didalam pemerintahan. Mereka yang seharusnya di percayakan kemajuan daerah justru dipakai untuk kepentingan pribadi. Sama yang terjadi, pemerintah kepulauan sulah telah terduga dengan Bantuan Tak Terduga (BTT). Sudah 4 tahun masalah ini belum […]

error: Content is protected !!
expand_less