Dari Koneksi Kilat ke Perjumpaan yang Hilang
- account_circle Al Muhammad
- calendar_month Jum, 16 Jan 2026

Firhat Abbas, Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UMMU.
Praktik kehadiran berarti hadir sepenuhnya saat berinteraksi, meskipun melalui kata-kata singkat. Penting juga memberi ruang bagi percakapan yang lebih panjang dan membutuhkan konteks.
Di bidang pendidikan dan komunitas, literasi digital yang memuat etika komunikasi harus diajarkan sejak dini. Siswa perlu memiliki alat untuk mengenali kapan percakapan bergeser dari dialog menjadi pertunjukan penghakiman, serta strategi merespons ujaran kebencian tanpa ikut memperkuatnya.
Sekolah dan organisasi pemuda dapat melakukan simulasi diskusi daring untuk melatih empati dan kemampuan menulis komentar yang konstruktif. Kelompok masyarakat dapat membangun jejaring offline yang terhubung ke ruang digital sehingga empati daring lebih mudah diterjemahkan menjadi aksi nyata.
Perubahan di level platform juga penting. Perancang produk dapat menguji fitur yang mengurangi reaksi spontan, misalnya jeda sebelum mengirim komentar, peringatan ketika bahasa berpotensi melecehkan, atau mekanisme yang menonjolkan konteks asli sebelum konten dipromosikan.
Mengalihkan insentif dari sekadar engagement maksimal ke kualitas interaksi memang menantang model bisnis, tetapi langkah-langkah kecil seperti menonjolkan konten panjang, memberi penghargaan kepada komentar konstruktif, dan menampilkan verifikasi konteks dapat mendorong budaya diskusi yang lebih dewasa.
Kritikus mungkin menilai tuntutan Aku-Engkau terlalu idealis untuk ekosistem digital yang bergerak cepat. Namun tuntutan tersebut bukan alasan untuk menyerah. Karena perhatian kini menjadi sumber daya langka, pilihan sadar terhadap kualitas interaksi menjadi tindakan etis. Tidak semua percakapan harus intens. Yang penting adalah mampu mengenali kapan sebuah interaksi pantas diperlakukan sebagai perjumpaan.
Perubahan budaya komunikasi digital memerlukan kesadaran kolektif dan tindakan di banyak lapis: kebiasaan personal, kurikulum pendidikan, desain platform, dan kebijakan publik. Tindakan kecil dan konsisten dari banyak pengguna dapat mengubah budaya digital menjadi lebih penuh empati dan bermartabat bagi generasi yang akan datang.
Pemikiran Buber mengingatkan bahwa menjadi aku tidak lengkap tanpa engkau. Jika kita menginginkan media sosial yang lebih manusiawi, perubahan harus dimulai dari banyak sisi. Setiap upaya kecil, seperti menahan ejekan, memberi komentar yang membuka ruang dialog, dan menerjemahkan empati daring ke tindakan nyata, adalah langkah meneguhkan perjumpaan. Di antara klik dan geser layar, mari sesekali berhenti untuk mengakui: Engkau.
***
- Penulis: Al Muhammad
