Breaking News
light_mode
Beranda » Regional » Sekretariat DPRD Haltim Dihujani Kritik, Anggarkan Rp 860 Juta untuk Burung Garuda hingga Foto Presiden

Sekretariat DPRD Haltim Dihujani Kritik, Anggarkan Rp 860 Juta untuk Burung Garuda hingga Foto Presiden

  • account_circle Al Muhammad
  • calendar_month Sel, 29 Jul 2025

Maba, Kokehe – Kantor Sekretariat DPRD Halmahera Timur (Haltim) tampil megah dengan lambang negara Garuda Pancasila dan foto Presiden serta Wakil Presiden yang terpajang rapi. Tapi siapa sangka, tampilan simbolik itu ditebus dengan anggaran fantastis senilai Rp 860 juta dari uang rakyat.

Data itu tercantum dalam dokumen Rencana Umum Pengadaan (RUP) yang diunggah ke situs LPSE LKPP. Dalam paket konsolidasi tersebut, tercantum pengadaan Burung Garuda, foto Presiden dan Wapres, serta papan nama ruangan anggota dewan. Tak ada rincian unit, tak ada spesifikasi teknis. Semuanya disebut dalam narasi umum pengadaan lewat e-purchasing.

“Sangat tak wajar. Belanja lambang burung Garuda, Foto Presiden dan Wakil Presiden Plus Papan nama Ruang DPRD dengan Nilai nyaris Satu Miliar,” tegas Agus Salim R. Tampilang, praktisi hukum Maluku Utara, kepada wartawan, Selasa (29/7/2025).

Menurut Agus, pola pengadaan seperti itu rawan jadi celah praktik mark-up anggaran, apalagi jika dikemas dalam skema e-purchasing yang minim transparansi. Ia menyebutnya sebagai “pengadaan kamuflase” yang tidak berdampak langsung ke masyarakat, tapi menyedot anggaran besar.

Dalam dokumen, proyek ini dijadwalkan mulai Mei dan barang digunakan hingga Desember 2025. Tak ada aspek keberlanjutan, bahkan nihil nilai sosial yang bisa dirasakan masyarakat.

“Lambang negara itu penting. Tapi tak berarti jadi alasan untuk menggerogoti APBD. Kalau burung Garuda bisa bicara, mungkin dia akan bilang: Saya bukan proyek korupsi,” sindir Agus.

Tak hanya itu, Agus juga menyoroti pola pemecahan pagu anggaran ke sembilan kode berbeda dalam APBD 2025. Metode ini disebut sering digunakan untuk mengaburkan jejak anggaran, sekaligus menyulitkan kontrol publik dan pengawasan internal DPRD sendiri.

Ironisnya, Sekretariat DPRD yang seharusnya mendukung fungsi pengawasan, justru diduga menjadi aktor utama dalam belanja janggal ini.

“Uang Rp 860 juta itu bisa dipakai bangun jembatan kecil, fasilitas air bersih, atau ruang kelas. Tapi hari ini malah habis untuk foto dan papan nama,” tutupnya.

  • Penulis: Al Muhammad

Berita Lainnya

  • Oknum Pegawai BPN Haltim diduga Ambil Paksa Rumah Ibu Sambung Istri

    Oknum Pegawai BPN Haltim diduga Ambil Paksa Rumah Ibu Sambung Istri

    • calendar_month Sen, 16 Jun 2025
    • account_circle Al Muhammad
    • 0Komentar

    Ternate,Kokehe -Nama Heru Umanailo, staf Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Halmahera Timur diduga terlibat dalam aksi pengambilalihan rumah secara paksa milik ibu sambung istrinya sendiri, Julia Rustanti Ruray, di Kelurahan Tarau, Kota Ternate. Ironisnya, Heru bersama istrinya Andini tak hanya mengambil alih fisik rumah, tapi juga diduga mencuri sertifikat tanah dari dalam rumah tanpa izin […]

  • Front Mahasiswa Malut Pro Warga Maba Sangaji desak Kementerian SDM Cabut Izin PT Position photo_camera 4

    Front Mahasiswa Malut Pro Warga Maba Sangaji desak Kementerian SDM Cabut Izin PT Position

    • calendar_month Sen, 11 Agu 2025
    • account_circle Al Muhammad
    • 0Komentar

    Jakarta, Kokehe – Front Mahasiswa Maluku Utara Pro Warga Maba Sangaji (FORMAT PRAGA) kembali menggelar aksi unjuk rasa sebagai Seruan Aksi Jilid II, Senin (11/8/2025). Aksi tersebut berlangsung di depan Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI di Jakarta. Dalam aksi tersebut, mahasiswa membawa tuntutan utama terkait […]

  • Ditangkap Karena Melindungi Hutan Adat, Kisah Sahrudin dan Putrinya

    Ditangkap Karena Melindungi Hutan Adat, Kisah Sahrudin dan Putrinya

    • calendar_month Sen, 21 Jul 2025
    • account_circle Al Muhammad
    • 0Komentar

    Ternate,Kokehe – Mendung tipis menyelimuti langit Ternate saat Wahyuni Sahrudin duduk termenung di kamar kosnya. Bagi mahasiswi semester akhir Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Khairun itu, langit yang kelabu seolah mencerminkan kabut duka di hatinya. ayahnya, Sahrudin Awat, ditangkap polisi. Dan lebih menyakitkan lagi, kabar itu ia ketahui bukan dari keluarga atau pejabat desa, melainkan […]

  • Menkeu Purbaya Respons Dugaan Premanisme Pegawai Pajak di KPP Tigaraksa

    Menkeu Purbaya Respons Dugaan Premanisme Pegawai Pajak di KPP Tigaraksa

    • calendar_month Sab, 25 Okt 2025
    • account_circle Al Muhammad
    • 0Komentar

    Jakarta,KOKEHE-Menkeu Purbaya Respons Dugaan Premanisme Pegawai Pajak di KPP Tigaraksa Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa merespons temuan yang masuk melalui kanal pengaduan WhatsApp miliknya, Lapor Pak Purbaya, terkait dugaan aksi premanisme yang dilakukan oleh seorang Account Representative (AR) di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Tigaraksa, Banten. Setelah dilakukan penelusuran, Purbaya mengklarifikasi bahwa tindakan tersebut bukanlah […]

  • Penangkapan Wamenaker Immanuel Disorot Media Asing

    Penangkapan Wamenaker Immanuel Disorot Media Asing

    • calendar_month Sab, 23 Agu 2025
    • account_circle Al Muhammad
    • 0Komentar

    Jakarta,Kokehe – Penangkapan Wakil Menteri Ketenagakerjaan Immanuel Ebenezer oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memantik perhatian media internasional. Immanuel ditangkap bersama 13 orang lainnya dalam kasus dugaan pemerasan terkait penerbitan izin keselamatan kerja. Ia menjadi pejabat pertama di Kabinet Prabowo Subianto yang terseret kasus korupsi sejak pemerintahan baru dilantik Oktober lalu. Media asing bereaksi cepat. Channel […]

  • Distribusi Mandek, Minyak Tanah Jadi Barang Langka di Haltim

    Distribusi Mandek, Minyak Tanah Jadi Barang Langka di Haltim

    • calendar_month Rab, 17 Sep 2025
    • account_circle Paps
    • 0Komentar

    Maba, Kokehe – Kelangkaan minyak tanah melanda sejumlah desa di Kecamatan Wasile Selatan, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara. Warga mengaku kesulitan mendapatkan pasokan dan mulai terdampak secara ekonomi. Desa Ekor, Ekorino, dan Nusajaya menjadi tiga wilayah yang paling merasakan dampaknya. Warga di desa-desa itu selama ini masih sangat bergantung pada minyak tanah untuk kebutuhan memasak […]

error: Content is protected !!
expand_less