Retorika dan Wajah Media Sosial
- account_circle Al Muhammad
- calendar_month Ming, 18 Jan 2026

Retorika pun kehilangan fungsi dialogiknya dan beralih menjadi alat untuk menggerakkan konflik. Dampak komunikasi, seperti yang diingatkan oleh Lasswell, terlihat jelas dalam bentuk polarisasi dan ketegangan sosial.
Wilbur Schramm memberikan peringatan penting tentang makna dalam komunikasi. Dalam The Process and Effects of Mass Communication (1954), Schramm menyatakan bahwa komunikasi adalah proses berbagi makna. Pernyataan ini menegaskan bahwa komunikasi tidak berhasil ketika pengirim dan penerima tidak memiliki pemahaman yang sama.
Media sosial sering mempertemukan individu dengan latar belakang pengalaman, budaya, dan pengetahuan yang sangat berbeda tanpa memberikan ruang klarifikasi yang memadai.
Ketika orang mengabaikan konteks audiens, komunikasi di dunia digital berubah menjadi tindakan saling serang. Retorika tidak lagi menciptakan pemahaman, melainkan justru memperburuk prasangka dan kecurigaan. Dalam situasi ini, ruang publik di dunia maya kehilangan perannya sebagai tempat dialog dan bertransformasi menjadi arena pertarungan simbolik yang melelahkan.
Dengan demikian, penting untuk melihat media sosial melalui perspektif Aristoteles dan para ahli komunikasi. Retorika sebagai bentuk komunikasi memerlukan tanggung jawab etis, logika dalam berargumen, dan kesadaran terhadap efek dari pesan yang disampaikan. Tanpa pemahaman itu, media sosial tidak akan pernah berfungsi sebagai ruang demokrasi digital, melainkan hanya akan menjadi panggung berisik yang minim makna dan kurang etika.
***
- Penulis: Al Muhammad
