Breaking News
light_mode
Beranda » Regional » Bahasa Sosmed dan Matinya Makna Tunggal: Refleksi Saussure di Era Digital

Bahasa Sosmed dan Matinya Makna Tunggal: Refleksi Saussure di Era Digital

  • account_circle Al Muhammad
  • calendar_month Sel, 13 Jan 2026

Saussure juga membedakan antara langue, sistem bahasa yang baku dan kolektif dan parole, praktik berbahasa individu. Dahulu, langue dianggap sebagai panglima; kita berbicara dengan tunduk pada aturan. Namun media sosial membalik hierarki ini. Parole digital, ucapan spontan, slang, plesetan, dan singkatan di kolom komentar, kini justru lebih berkuasa dalam membentuk realitas bahasa dibandingkan kaidah tata bahasa yang kaku.

Setiap thread di X atau video singkat di TikTok adalah bentuk parole yang terus-menerus mengguncang stabilitas langue. Akibatnya, bahasa tidak lagi tampil sebagai sistem kolektif yang stabil, melainkan sebagai medan tempur identitas yang dinamis dan sering kali agresif.

Lebih jauh, Saussure menekankan bahwa makna lahir dari perbedaan: sebuah kata bermakna karena ia bukan kata yang lain. Di media sosial, prinsip ini berubah menjadi alat polarisasi. Istilah seperti cebong, kampret, woke, atau sigma memperoleh maknanya bukan dari definisi kamus, melainkan dari oposisi terhadap kelompok lain. Bahasa menjadi senjata, bukan jembatan.

Bahasa media sosial membentuk jaringan perbedaan yang sangat tajam. Value sebuah kata kini bergantung pada konteks, platform, dan kepada siapa ia diarahkan. Makna tunggal pun runtuh, digantikan oleh makna-makna fragmentaris yang hanya dapat dipahami oleh suku-suku tribalisme digital tertentu.

Matinya makna tunggal membawa konsekuensi sosial yang mahal. Jika dahulu bahasa berfungsi sebagai alat untuk saling memahami, kini ia kerap berubah menjadi tembok pemisah. Masalahnya bukan lagi pada apa yang kita katakan, melainkan pada siapa yang mendengarnya. Fragmentasi makna menjebak komunikasi kita dalam filter bubble dan ruang gema.

Ironinya, kita sering menggunakan penanda yang sama, tetapi di kepala masing-masing muncul petanda yang sama sekali berbeda. Ketika kata keadilan atau kebebasan dilempar ke kolom komentar, bagi satu kelompok ia adalah aspirasi moral, bagi kelompok lain justru provokasi ideologis. Kita tidak lagi berdebat tentang gagasan, melainkan saling menyerang karena gagal menyepakati sistem tanda yang relatif stabil.

Di titik ini, kritik sosial paling tajam adalah hilangnya empati linguistik. Kita semakin malas memahami konteks orang lain karena merasa paling berhak atas makna sebuah kata. Bahasa yang menurut Saussure bersifat kolektif, kini diprivatisasi oleh ego kelompok. Akibatnya, yang lahir bukan diskusi sehat, melainkan cancel culture dan penghakiman massal, hanya karena perbedaan tafsir atas tanda yang sejatinya manasuka.

Jika kecenderungan ini terus dibiarkan, kita sedang menuju “Menara Babel” versi modern. Kita berbicara dengan bahasa yang sama, tetapi tak seorang pun benar-benar memahami maksud orang di sebelahnya.

Pada akhirnya, Ferdinand de Saussure tidak hanya mewariskan teori tentang bagaimana kata bekerja, melainkan juga cermin untuk membaca denyut masyarakat. Media sosial memang telah meruntuhkan otoritas makna tunggal, menjadikannya cair, liar, dan kerap tak terkendali. Namun barangkali inilah saatnya kita menyadari bahwa bahasa memang tidak pernah menjadi benda mati di dalam kamus. Ia adalah organisme hidup yang bernapas melalui interaksi sehari-hari.

Mempelajari Saussure di tengah riuh algoritma hari ini memberi kita satu pelajaran penting: setiap tanda yang kita lempar ke ruang publik membawa tanggung jawab sosial. Jika hubungan antara penanda dan petanda bersifat manasuka, maka kitalah yang memilih, apakah kemanasukaan itu digunakan untuk membangun pemahaman, atau justru memperlebar jurang kebencian.

Matinya makna tunggal seharusnya bukan alasan untuk berhenti berkomunikasi. Sebaliknya, ia adalah undangan untuk bersikap rendah hati: lebih banyak mendengar konteks sebelum menghakimi teks. Di dunia yang semakin bising, kemampuan untuk menyepakati makna sekecil apapun atau setidaknya saling memahami perbedaannya adalah bentuk perlawanan paling nyata terhadap perpecahan. Kita mungkin tak lagi memiliki satu makna yang mutlak, tetapi kita selalu bisa memilih untuk menjaga satu empati yang utuh.

***

  • Penulis: Al Muhammad

Berita Lainnya

  • Gurita Tambang Ilegal PT Position di Halmahera Timur: Negara Dirugikan Rp12 Triliun

    Gurita Tambang Ilegal PT Position di Halmahera Timur: Negara Dirugikan Rp12 Triliun

    • calendar_month Jum, 8 Agu 2025
    • account_circle Al Muhammad
    • 0Komentar

    Data resmi Gakkum menemukan, PT Position telah membuka areal tambang di beberapa Izin Usaha Pertambangan (IUP) milik entitas lain: 1,2 kilometer di wilayah IUP PT Wana Kencana Mineral 6,5 kilometer di wilayah PT Weda Bay Nikel 2,7 kilometer di IUP milik PT Pahala Milik Abadi Perusahaan berdalih sedang membangun jalan tambang. Namun, dengan total 10,4 […]

  • PT Weda Bay Nikel Disomasi

    PT Weda Bay Nikel Disomasi

    • calendar_month Sen, 22 Sep 2025
    • account_circle Paps
    • 0Komentar

    GPLT-MU menilai, pelanggaran yang dilakukan PT WBN dapat diproses berdasarkan sejumlah aturan hukum. Di antaranya Pasal 50 ayat (3) huruf g dan i jo. Pasal 78 UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, Pasal 92 UU No. 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Pengrusakan Hutan, hingga Pasal 2 dan Pasal 3 UU No. 31 […]

  • Potret Buruh Emas Di Tanah Obi photo_camera 10

    Potret Buruh Emas Di Tanah Obi

    • calendar_month Sel, 30 Sep 2025
    • account_circle Azzam
    • 0Komentar

    proses pemisahan batu rep dan emas di dalam mesin tromol, hingga proses pembakaran hasil gilingan mesin tromol untuk mendapat hasil emas murni. Tambang emas Anggai ditemukan pada tahun 1996. Sejak awal ditemukannya hingga sekarang, tambang ini tidak dikelola oleh negara maupun perusahaan tertentu. Hal ini membuat tambang Anggai berjalan dengan status ilegal atau PETI (Pertambangan Emas Tanpa Izin).

  • Fenomena Bendera One Piece Marak di Indonesia Jelang HUT RI ke-80

    Fenomena Bendera One Piece Marak di Indonesia Jelang HUT RI ke-80

    • calendar_month Sen, 4 Agu 2025
    • account_circle Al Muhammad
    • 0Komentar

    Jakarta, Kokehe – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, fenomena unik tengah marak di berbagai daerah. Sejumlah warga terlihat mengibarkan bendera berlogo tengkorak khas dari anime One Piece, yang terekam dalam berbagai video di media sosial, terutama TikTok. Bendera tersebut bukan sembarang lambang. Ia dikenal sebagai Jolly Roger, simbol tengkorak yang secara historis […]

  • LBH Ansor Ternate Angkat Suara soal Polemik HIPMI dan KONI Malut

    LBH Ansor Ternate Angkat Suara soal Polemik HIPMI dan KONI Malut

    • calendar_month Sen, 6 Okt 2025
    • account_circle Al Muhammad
    • 0Komentar

    Nama Rio C. Pawane belakangan jadi sorotan karena niatnya maju sebagai Ketua HIPMI Malut. Padahal, bagi LBH Ansor, HIPMI tak lebih dari organisasi profesi pengusaha muda. Zulfikran mengutip Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) HIPMI yang anggota organisasi ini adalah warga negara Indonesia yang bukan PNS, TNI, atau Polri. Tidak ada larangan bagi pejabat […]

  • Mengenal Baterai EV, Sumber Energi Utama Kendaraan Listrik

    Mengenal Baterai EV, Sumber Energi Utama Kendaraan Listrik

    • calendar_month Rab, 25 Jun 2025
    • account_circle Al Muhammad
    • 0Komentar

    Sementara itu, baterai nickel-metal hydride (Ni-MH) masih umum ditemukan di kendaraan hybrid karena kestabilannya dan kemudahan dalam daur ulang. Di sisi lain, teknologi baru seperti baterai solid-state tengah dikembangkan oleh berbagai produsen otomotif untuk menghasilkan baterai yang lebih aman dan bertenaga tinggi. Tak hanya itu, komponen tambahan seperti ultracapacitor juga mulai diintegrasikan dalam sistem EV. […]

error: Content is protected !!
expand_less